Father, Less/More?




 

Di waktu yang tidak terduga, setelah penatnya bekerja. Seorang ayah duduk di meja makan dengan anak perempuan dan juga istrinya. Seketika sebuah perbincangan terjadi. Sang ayah merencanakan sesuatu untuk anak perempuannya yang sebentar lagi akan merantau ke Kota lain.

Sang ayah berkata, "Cari waktu yang pas susah nih buat cek kosan kamu." Ayah berkata sambil mengunyah cireng yang baru saja anaknya buat. Sepasang suami istri tersebut sedikit berargumen tentang rencana kepergian anak mereka, sedangkan anak perempuan itu hanya mendengarkan kedua orang tuanya sedang berbicara. "Nanti Tia pulang sendiri aja, naik kereta." Ujar sang Ibu. Ayah langsung memotong perkataan Ibu. "Jangan, masih kecil. Nanti kenapa-napa di jalan, sama ayah aja nanti pulang sama perginya." Jawab sang Ayah. Si anak perempuan hanya termenung sambil menahan rasa geli setelah mendengar ayahnya berbicara seperti itu.

Bagaimana tidak, usianya kini hampir menginjak usia 25 tahun dan sang ayah dengan lantangnya masih berkata bahwa anak perempuannya masih saja seperti gadis kecil dimatanya. Entah ia harus bersyukur mendapatkan kasih sayang dari ayah yang begitu besar hingga usianya saat ini atau merasa khawatir karena rasa protektif yang berlebih dari sang ayah. Sebenarnya ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Diumur berapakah ayahnya akan menganggap bahwa anak perempuannya ini sudah bukan lagi anak kecil? Diusia berapakah ayahnya tidak akan mengkhawatirkan hal sepele yang akan dilakukan anak perempuannya ini? Apakah ini yang dirasakan oleh anak yang mendapatkan limpahan kasih sayang, entah itu berlebihan atau tidak dari ayahnya? Bagaimana dengan seorang ayah yang sama sekali tidak memedulikan anaknya dari segi emosional maupun finansial sang anak?

Istilah "Fatherless" sering muncul dibenak akhir-akhir ini, mungkin juga karena beberapa fenomena yang terjadi di kehidupan orang-orang terdekat seperti keluarga yang ternyata mengalami kejadian "fatherless" ini. Pikiran ini terlintas ketika menyadari sang ayah begitu khawatirnya pada anak perempuannya yang hendak pergi sendirian ke kota lain menggunakan transportasi umum, sedangkan beberapa anak diluar sana sekedar untuk berbincang dengan ayahnya saja seperti akan tersedak ludah sendiri akibat rasa canggung yang amat sangat besar.

Entah karena faktor apa sehingga tidak sedikit seorang anak merasa canggung untuk berbincang santai dengan ayahnya. dan daripada itu, banyaknya yang merasakan kehilangan figur ayah dari kehidupannya. Dan yang membuat prihatin lagi adalah, hilangnya sosok ayah dari kehidupan sehari-hari dapat membuat efek negatif yang bermacam-macam dari sang anak, seperti melakukan kenakalan karena tidak mendapat ketegasan dibarengi dengan penjelasan logis dari sang ayah, atau yang lebih parahnya lagi kejahatan-kejahatan yang jika ditarik lurus akar masalahnya adalah kurangnya komunikasi dengan sang ayah.

Lalu bagaimana dengan kejadian yang baru saja dialami hari ini? Apakah ini kebalikan dari istilah "fatherless"? Apakah kebalikan dari itu dapat menimbulkan efek positif terhadap anak? atau malah dapat menimbulkan efek buruk pula?

Komentar

Eksis